Lompat ke isi utama

Agenda

SENANDUNG WARTA DI TEPI PAWAN: KETIKA PPID BAWASLU KETAPANG MENENUN TERANG

Sebuah Cerita Fiksi Berdasarkan Sisi Dramatik Keterbukaan Informasi di Bawaslu Kabupaten Ketapang

 

Malam itu, Sungai Pawan mengalir tenang, membawa reflikasi sinar rembulan yang membias di atas permukaan air. Di sebuah kedai kopi berarsitektur kayu di sudut Kota Ketapang, Bung Indra seorang perupa kawakan yang jemarinya selalu beraroma cat minyak sedang duduk termangu. Di hadapannya melayang berlembar-lembar kabar burung. Isu-isu liar tentang riak politik lokal bermekaran bagai jamur di musim hujan, meracuni benak warga yang merindukan kejujuran.

"Matahari boleh tenggelam, Indra," bisik Pak Hergan, sesepuh kampung yang duduk di sampingnya seraya menyeruput kopi hitam. "Namun, bila kabar tak bertepi dibiarkan menari dalam gelap, kebenaran akan mati suri sebelum fajar."

Indra mengangguk pelan. Sebagai seniman, ia paham betul betapa indahnya kebenaran ketika dilukis tanpa manipulasi warna. Namun, di manakah tempat mencari kanvas yang murni di tengah riuhnya prasangka?

Mengetuk Pintu Rumah Transparansi

Langkah kaki Indra membawanya menyusuri jalanan Ketapang menuju sebuah gedung yang berdiri kokoh namun hangat. Di sanalah bermukim PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) Bawaslu Kabupaten Ketapang. Bagi masyarakat awam, itu mungkin sekadar nama lembaga. Namun bagi jiwa-jiwa penyair dan perupa, tempat itu adalah studio tempat warta dirawat dan dikaji kejujurannya.

Di balik meja pelayanan, seorang petugas tersenyum ramah, menyapa dengan bahasa tutur yang menyejukkan. Tak ada sekat birokrasi yang dingin, yang ada hanya keterbukaan untuk merawat kepercayaan publik.

"Kami di sini bukan sekadar menyimpan arsip dalam lemari berdebu, Bung Indra," tutur Soraya (petugas PPID) sembari menunjukkan lembaran-lembaran Daftar Informasi Publik. "PPID adalah kuas yang merapikan warna-warna kabur menjadi lukisan yang terang benderang. Setiap data pengawasan, setiap informasi kelembagaan, kami olah agar dapat diakses oleh siapa saja yang dahaga akan kebenaran."

Harmoni Data dan Pengawasan Partisipatif

Indra mengamati setiap sudut ruangan. Ia melihat bagaimana dokumen-dokumen disusun secara teratur, bagaimana sistem digital bekerja dengan presisi, dan bagaimana setiap permohonan informasi dirajut dengan kepastian hukum.

PPID Bawaslu Ketapang bukan sekadar penjaga benteng data, melainkan dirigen yang memimpin simfoni keterbukaan. Ketika publik bertanya, PPID menjawab dengan naskah yang sah. Ketika rumor berembus, PPID menghadirkan kenyataan yang tak berbunga-bunga.

"Menjaga demokrasi," gumam Indra seraya mengelus jemarinya, "ternyata serupa dengan menciptakan karya seni yang agung. Ia membutuhkan kejujuran pada setiap goresannya, dan keberanian untuk membiarkan publik melihat setiap detailnya."

Kanvas Kedamaian untuk Bumi Matan

Kembali ke tepi Pawan saat matahari menanjak naik, Indra melangkah dengan dada yang lapang. Di tangannya, ia tak lagi memegang kabar burung yang samar, melainkan kepastian informasi yang ia dapatkan dari sang penjaga transparansi.

Di bawah naungan langit Ketapang, ia tahu bahwa selama PPID Bawaslu Kabupaten Ketapang berdiri dengan setia, cahaya keterbukaan tak akan pernah padam. Demokrasi di Bumi Matan bukan lagi panggung intrik yang pekat, melainkan sebuah simfoni indah yang dimainkan di atas kanvas kejujuran.

 

Penulis : Adhitia N. Haimin

 

Agenda