Lompat ke isi utama

Agenda

Mengenal Demokrasi Sejak Sekolah: Menyiapkan Pemilih Pemula Menjadi Pengawas Partisipatif

BAWASLU: Pemilih pemula merupakan bagian penting dalam masa depan demokrasi. Mereka adalah generasi yang akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya dan pada saat yang sama memiliki kesempatan untuk membangun budaya demokrasi yang lebih baik di lingkungan sekitarnya.

Karena itu, pendidikan mengenai pemilu dan pengawasan tidak harus menunggu seseorang menjadi pemilih. Pemahaman tersebut dapat diberikan sejak berada di bangku sekolah.

Bawaslu Kabupaten Ketapang telah melaksanakan edukasi pengawasan partisipatif kepada pemilih pemula di sejumlah sekolah. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai demokrasi, hak dan kewajiban pemilih, serta berbagai bentuk pelanggaran pemilu.

Pemilih Pemula Tidak Cukup Hanya Tahu Cara Mencoblos

Pendidikan pemilih sering kali dipahami sebatas mengenalkan cara menggunakan hak suara.

Padahal, pemilih juga perlu memahami mengapa suara mereka penting, bagaimana menjaga pilihan tetap bebas, serta apa yang harus dilakukan apabila menemukan dugaan pelanggaran.

Pemilih pemula perlu diperkenalkan dengan nilai kejujuran, kebebasan memilih, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga informasi yang mereka terima.

Dengan pemahaman tersebut, mereka tidak hanya menjadi pemilih yang menggunakan hak suara, tetapi juga menjadi warga negara yang memahami proses demokrasi.

Media Sosial sebagai Ruang Belajar

Generasi muda sangat dekat dengan media sosial. Kondisi ini dapat menjadi tantangan apabila informasi yang diterima tidak diverifikasi, tetapi sekaligus dapat menjadi peluang untuk menyebarkan pendidikan demokrasi.

Materi kepemiluan dapat disampaikan melalui video singkat, infografis, kuis, diskusi, dan konten digital yang sesuai dengan karakter pemilih muda.

Bawaslu Ketapang dalam kegiatan edukasi kepada siswa juga mengingatkan pentingnya menggunakan media sosial secara cerdas dan tidak hanya menjadikannya sebagai ruang hiburan.

Karena itu, literasi digital sebaiknya menjadi bagian dari pendidikan pemilih pemula.

Dari Siswa Menjadi Pengawas Partisipatif

Pemilih pemula tidak perlu menunggu menjadi penyelenggara pemilu untuk dapat berkontribusi.

Mereka dapat memulai dari lingkungan sekolah dan pertemanan. Misalnya dengan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak melakukan intimidasi terhadap pilihan orang lain, menolak politik uang, serta menyampaikan informasi mengenai dugaan pelanggaran melalui jalur yang tepat.

Bawaslu Kabupaten Ketapang juga membuka pendidikan pengawasan partisipatif yang mencakup pemilih pemula dan pemilih muda, termasuk pelajar, mahasiswa, pengurus organisasi, dan komunitas.

Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengawasan partisipatif.

Pendidikan Demokrasi Harus Berkelanjutan

Pendidikan pemilih tidak cukup dilakukan satu kali menjelang pemilu. Pemahaman mengenai demokrasi perlu dibangun secara bertahap dan berkelanjutan.

Sekolah dapat menjadi salah satu ruang penting untuk memperkenalkan nilai demokrasi. Kampus dan komunitas pemuda kemudian dapat menjadi ruang untuk memperluas diskusi dan praktik pengawasan partisipatif.

Dengan demikian, ketika generasi muda memasuki usia pemilih, mereka tidak datang ke tempat pemungutan suara hanya karena mengikuti orang lain. Mereka datang dengan pemahaman bahwa suara mereka memiliki arti dan harus digunakan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, membangun demokrasi tidak selalu dimulai dari kegiatan besar. Demokrasi dapat dimulai dari ruang kelas, percakapan antarteman, cara menggunakan media sosial, dan keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah tindakan tidak sesuai dengan aturan.

“Mendidik pemilih pemula hari ini berarti menyiapkan masyarakat yang lebih sadar demokrasi untuk masa depan”.

Penulis : Dede Hadhori

Editor :Medya Fahrurrazi

Agenda